Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Monday, March 19, 2018




A. Homonimi
            Kata homonimi berasal dari Bahasa Yunani kuno, yaitu onama yang artinya nama, dan homo yang artinya sama. Secara harfiyah homonimi dapat diartikan sebagai nama sama untuk benda atau hal lain. Menurut Verhaar, homonimi adalah ungkapan (kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (kata, frase, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama.[1]
Homonimi adalah dua buah kata berbeda, atau bisa jadi lebih dari dua, tentu saja dengan arti yang berbeda pula, yang memiliki kesamaan fonologis dan atau ortografis.[2] Atau pengertian lain dari hominimi adalah dua ujaran dalam bentuk kata yang sama lafalnya dan sama ejaannya atau tulisannya. Dengan demikian bentuk homonimi dapat dibedakan berdasarkan lafalnya dan berdasarkan tulisannya. Dua ujaran dalam bentuk kata yang sama lafalnya, tetapi berlainan tulisannya disebut homofoni. Misalnya, bank dan bang. Atau ada juga dua ujaran dalam bentuk kata yang sama tulisannya, tetapi berlainan pelafalannya disebut homografi. Misalnya Bela dan bela.[3]
            Adapun menurut para linguis Arab, homonimi adalah:
لهومونيم: عبارة عن كلمات متشابهة في النطق والكتابة ولكنها مختلفة في الدلالة
Homonimi adalah suatu kalimat yang sama di dalam pelafalan dan penulisannya, akan tetapi mempunyai makna yang berbeda.[4]
            Jerrold dan Jerry Fodor pertama kalinya mengemukakan aturan atau batas makna kalimat dalam karyanya yang masyhur yaitu The Structure of a Semantic Theory, yang tersebar pada tahun 1963. Kemudian mulai muncul perubahan dan pengembangannya yang bermacam-macam.
            Teori ini berlaku ketika memisahkan makna suatu kalimat dari makna-maknanya yang lain berdasarkan silsilah unsur unsur awalnya dengan cara menyajikan makna-maknanya dari makna umum menjadi makna khusus. Setiap makna kalimat dibatasi atau melalui 3 fase; grammatical marker, semantic marker, distinguisher. Contoh kalimat Bachelor yang mempunyai beberapa makna yaitu:
·         Penunggang kuda kecil yang melayani penunggang kuda yang besar
·         Sarjana kampus tingkat awal
·         Perjaka
·         Hewan laut yang tidak melakukan proses pembuahan
Adapun fase atau proses dari penghasilan makna-makna tersebut adalah sebagai berikut;
Ø  Bachelor > kata benda >> hewan >> laki-laki >>> hewan laut yang tidak melakukan proses pembuahan
Ø  Bachelor > kata benda >> manusia >>> sarjana
Ø  Bachelor > kata benda >> manusia >>> laki-laki >>> Penunggang kuda kecil yang melayani penunggang kuda yang besar
Ø  Bachelor > kata benda >> manusia >>> laki-laki >>> perjaka
Keterangan dari proses tersebut adalah sebagai berikut; tanda (>) adalah grammatical marker, tanda (>>) adalah semantic marker, dan tanda (>>>) adalah distinguisher.[5]
            Analisis homonimi menurut Verhaar adalah analisis linguistik, maka kreteria-kreteria linguistiklah yang dipergunakan untuk menganalisa homonimi. Pertama, secara linguistik homonimi ialah ungkapan baik kata, frase, atau kalimat yang sama bentuknya namun mempunyai makna yang berbeda. Kedua, ciri untuk menguji makna itu adalah ciri suprasegmental, morfofonemik, ciri unsur bawaan langsung, dan ciri hubungan struktur dalam dan struktur luar. Ketiga, homonimi ini dapat diuji dengan satuan kata, frase, dan kalimat.[6] Bahkan homonimi juga dapat terjadi dalam tataran morfem.
            Homonimi antarmorfem. Morfem nya dalam kalimat ini bukuku, itu bukumu, dan yang di sana adalah bukunya. Morfem nya di sini bermakna kata ganti orang ketiga. Sedangkan morfem nya dalam kalimat mau belajar tetapi bukunya belum ada. Morfem nya di sini bermakna sebuah buku tertentu.[7] 
            Homonimi antarkata. Dalam proses morfofonemik kita mengenal kata mengukur dan mengukur, kata mengukur diturunkan dari kata kukur, dan mengukur diturunkan dari kata ukur. Kita juga mengenal homonimi lain seperti mengurus dari kata kurus, dan mengurus dari kata kurus.
             Homonimi antarafrase. Frase guru bahasa Inggris (dapat diparafrasiskan dengan guru mengenai atau tentang bahasa Inggris) dan guru bahasa Inggris (parafrasis guru bahasa orang Inggris). Pidato presiden yang terakhir (sama dengan parafrasis presiden itu yang terakhir) dan pidato presiden terakhir (parafrasis pidato yang terakhir). Lukisan toni (sama dengan parafrasis lukisan milik toni) dan lukisan toni (parafrasis lukisan karya toni) atau bahkan lukisan toni (parafrasis lukisan tentang diri toni). Homonimi antarfrase secara struktural dapat dijelaskan dengan teknik Unsur Bawahan Langsung (surlang).
            Homonimi antarkalimat. Baju orang yang pendek itu putih (parafrasis baju orang itu putih dan orang itu pendek atau orang yang memakai baju putih itu pendek) dan baju orang yang pendek itu putih (parafrasis orang itu memakai baju yang pendek dan putih atau baju pendek orang itu putih). Secara struktural homonimi ini dapat dijelaskan dengan analisis surlang atau dengan teknik transformasi dengan pembedaan struktur dalam dan struktur luar.[8]
            Masalah lain dalam homonimi ini adalah perbedaan antara homonimi dan polisemi. Bagaimana cara menentukan dua kalimat yang sama apakah homonimi ataukah polisemi? Patokan pertama yang harus dipegang adalah bahwa homonimi itu merupakan dua buah bentuk ujaran atau lebih yang kebetulan bentukanya (penulisan dan atau pelafalannya) sama, sedangkan maknanya tentu saja berbeda jauh. Sedangkan polisemi adalah bentuk ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Makna-makna yang ada di dalam polisemi ini, walaupun berbeda tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantik, bahwa makna-makna itu masih mempunyai hubungan. Sebaliknya, makna-makna yang ada dalam hominimi tidak mempunyai hubungan sama sekali.
            Contohnya makna kepala. Hubungan makna kepala pada bentuk kepala surat dan kepala jarum bisa ditelusuri berdasarkan dari makna leksikal kata kepala itu. Namun kita tidak bisa melacak kata hubungan makna kata bisa yang bermakna racun ular dan makna bisa yang bermakna sanggup. Jelas diantaranya keduanya tidak ada hubungan sama sekali.[9]
B. Hiponimi
            Hubungan hiponimi (‘alaqat al-isytimali) adalah hubungan yang melibatkan sejumlah makna yang terkandung dalam sebuah kata yang setiap anggotanya memiliki kemiripan acuan, contoh kata إنسان dan kata-kata yang menjadi cangkupannya seperti أحمد، خالد، عمر  dan lain sebagainya.[10]        
Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onama yang bermakna  nama dan hypo bermakna bawah. Jadi secara harfiah berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantik, Verhaar menyatakan hiponimi adalah ungkapan yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Contohnya kata tongkol adalah hiponimi dari kata ikan sebab makna tongkol berada atau termasuk dalam makna kata ikan. Tetapi ikan bukan hanya tongkol saja, tetapi ada mujair, lele, bandeng, dan lain-lain. Jadi kata tongkol berhiponim dengan kata ikan, tetapi kata ikan tidak berhiponim dengan kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan.
            Dalam hal ini, relasi antara ikan dan tongkol (atau jenis ikan lainnya) disebut hipernimi. Jadi kalau tongkol berhiponin terhadap ikan, maka ikan berhipernim terhadap tongkol.[11]
Lalu bagaiman hubungan antara tongkol dengan mujair, lele, dan bandeng yang sama-sama berhiponimi terhadap ikan? Biasanya hubungan ini disebut dengan istilah kohiponim. Jadi tongkol berkohiponim dengan mujair, lele, dan bandeng.[12]
Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipermini terhadap suatu jumlah kata lain, akan menjadi hiponimi terhadap kata lain yang berada di atasnya. Umpanya kata ikan merupakan hipernimi dari tongkol, mujair, lele, bandeng akan menjadi hiponimi terhadap kata binatang. Mengapa demikian? Sebab yang termasuk binatang bukan hanya ikan, tetapi juga kambing, ayam, monyet, dan lain sebagainya. Selanjutnya binatang ini pun merupakan hiponimi terhadap kata makhluk, sebab yang termasuk makhluk bukan hanya binatang, tetapi juga manusia.[13]
Jika tongkol dan lele menjadi hiponim dari dari ikan, maka apa nam hubungan antara jendela dan pintu terhadap rumah? Dalam kasus ini perlu dilihat adakah kesamaan hubungan antara pintu terhadap rumah dengan tongkol terhadap ikan? Tampaknya hubungan itu tidaklah sama. Jika tongkol dan lele adalah buru atau sejenis burung, maka jendela dan pintu bukanlah rumah atau sejenis rumah. Jendela dan pintu hanyalah bagian atau komponen dari rumah. Hubungan antara jendela dan pintu dengan rumah ini disebut dengan partonimi atau meronimi.[14]
C. Kesimpulan
            Analisis pada makna semantik ada beberapa cara, diantara dengan homonimi dan hiponimi. Homonimi sendiri adalah bentuk makna yang berbeda tetapi sama dalam bentuk tulisan (homografi) atau sama bentuk ujarannya (homofoni).
            Sedangkan hiponimi sendiri adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercangkup dalam bentuk ujaran yang lain. Contohnya seperti tongkol merupakan hiponim terhadap ikan, karena tongkol sendiri sendiri merupakan ikan. Kebalikan hubungan dari hiponimi adalah hipernimi. Jadi ikan merupakan hipernim terhadap tongkol.
 
DAFTAR PUSTAKA
Chaer Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta
Chaer Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta. Rineka Cipta
HS. Mohammad Matsna. 2016. Kajian Semantik Arab Klasik dan Kontemporer. Jakarta. Prenadamedia
Parera J.D.. 2004. Teori Semantik. Jakarta. Erlangga
Umar Ahmad Mukhtar. 1982. Ilm al-Dilalah. Kuwait. Maktabah Daul ‘Arubah
Taufiqurrahman. 2008. Leksikologi Bahasa Arab. Malang. UIN-Malang Press
Subuki Makyun.2011. Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta. Trans Pustaka


[1] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta: 1995) h.93
[2] Makyun Subuki, Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa (Jakarta: Trans Pustaka: 2011) h.95
[3] J.D. Parera, Teori Semantik (Jakarta: Erlangga: 2004) h.81
[4] Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab (Malang: UIN-Malang Press: 2008) h.67
[5] Ahmad Mukhtar Umar, Ilm al-Dilalah (Kuwait: Maktabah Daul ‘Arubah: 1982) h. 114-116
[6] J.D. Parera, Teori Semantik (Jakarta: Erlangga: 2004) h.84
[7] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta: 1995) h.96
[8] J.D. Parera, Teori Semantik (Jakarta: Erlangga: 2004) h.85
[9] Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta: Rineka Cipta: 2014) h.304
[10] Mohammad Matsna HS., Kajian Semantik Arab Klasik dan Kontemporer, (Jakarta: Prenadamedia: 2016) h.16
[11] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta: 1995) h.99
[12] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta: 1995) h.100
[13] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta: 1995) h.100
[14] Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta: Rineka Cipta: 2014) h.307

Monday, July 3, 2017



BAB I
PEMBUKAAN
A. Latar Belakang
            Belajar Bahasa Arab tidak cukup hanya menguasai nahwu dan shorof saja. Akan tetapi juga harus menguasai ilmu balaghoh, yang di dalamnya membahas tentang ma’ani, bayan, dan badi.
Balaghoh secara bahasa bermakna mencapai dan sampai. بلغ فلان مراده artinya seseorang telah mencapai keinginannya. بلغ الركب المدينة artinya rombongan telah sampai di kota.[1]
تأدية المعني الجليل واضحا بعبارة صحيحة فصيحة: لها في النفس أثر حلاب، مع ملاءمة كل كلام للموطن الذي يقال فيه secara istilah adalah menyampaikan makna luhur yang jelas dengan ungkapan yang benar dan fasih, yang memberikan pengaruh menarik dalam jiwa, disertai dengan sesuainya situasi dan kondisi yang ada.[2]
            Dalam pembahasan balaghoh ini, tepatnya dalam ilmu ma'ani. Kalam akan terbagi menjadi dua, yaitu khobar dan insya. Hal ini adalah sangat mendasar, oleh karenanya hendaknya bagi para pelajar yang sedang mempelajari ilmu balaghoh, harus menguasai betul dan memahami apa itu khobar terlebih dahulu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan khobar?
2. Bagaimana balaghoh khobar dalam Surat Al-Ashr

C. Penyelesaian Masalah
1. Menjelaskan pengertian khobar secara terperinci dengan singkat dan jelas
2. Menjelaskan balaghoh khobar dalam Surat Al-Ashr


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Khobar
            Khobar adalah kalam yang pembicaranya dapat dituduh benar atau bohong. Apabila kalamnya sesuai dengan kenyataan maka dia itu benar. Dan apabila tidak sesuai dengan kenyataan maka dia itu bohong
            Masih berkaitan dengan benar atau bohongnya suatu kalam tergantung pada nisbah kalamiyah dan nisbah khorijiah. Nisbah kalamiyah adalah adalah sesuatu yang dinisbahkan pada kalam atau perkataan mutakalim. Sedangkan nisbah khorijiyah adalah sesuatu yang dinisbahkan pada khorij atau kenyataan yang terjadi. Jadi suatu khobar bisa dikatakan benar apabila adanya kesesuaian antara nisbah kalamiyah dan nisbah khorijiah. Apa bila tidak, maka khobar tersebut adalah bohong atau tidak benar.
B. Susunan Khobar
            Susunan di dalam khobar ada dua macam, yaitu asasi dan ghoiru asasi. Asasi terdiri dari musnad ilaih atau juga bisa disebut dengan mahkum alaih dan musnad atau juga bisa disebut dengan mahkum bih.
 Musnad ilaih ini bisa dikatakan sebagai inti dari pembicaraan, contoh dalamقام زيد  dan زيد قائم. Musnad ilaih pada contoh pertama yang berupa jumlah ismiyah (terdiri dari mubtada dan khobar) adalah Zaidun, begitu pula dalam contoh kedua yang berupa jumlah filiyah (terdiri dari fiil fan fail) adalah Zaidun. Sedangkan qoma dan qoimun, keduanya adalah musnad. Karena memang dalam kedua contoh tersebut sama-sama membicarakan zaid yang berdiri. Musnad ilaih bisa berupa mubtada, fail, naibuk fail, isim inna, dan isim kana. Dan musnad bisa berupa fiil, mubtada yang tidak mempunyai khobar, khobar, khobar kana, dan khobar inna, isim fiil, dan masdar yang menggantikan fiil amrnya.
Ghoiru asasi terdiri dari satu, yaitu qoyid. Qoyid bisa dikatakan sebagai keterangan tambahan atau pelengkap. Kalau dalam ilmu nahwu ada istilah fudhlah, yaitu amil yang bisa dibuang. Sama dengan halnya fudhlah, qoyid pun bisa dibuang karena memang dia hanya
tambahan saja. Macam-macam qoyid antara lain adat syarat, nafi, maful, hal, tamyiz, tabi, dan amil nawasikh. إن زيدا قائم dalam kalimat ini, qoyid berupa amil nawasikh, yaitu inna. Dan inna ini bisa dibuang, karena walaupun tidak ada inna kalam tadi tetap bisa berfaedah karena memiliki struktur yang lengkap. Jika inna dibuang menjadi زيد قائم.
C. Tujuan Penyampaian Khobar
Adapun tujuan dari penyampaian khobar ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tujuan asli dan tujuan balaghi.
 Tujuan asli dari penyampaian khobar ada dua macam, yaitu faidatul khobar dan lazimul faidah. Faidatul khobar adalah berita yang bersifat informatif, yaitu memberikan suatu berita atau info kepada mukhotob yang awalnya mukhotob tidak tahu sama sekali tentang berita atau info tadi. Contohnya; “dosen telah datang”. Khobar ini berfaidah faidatul khobar karena seseorang mahasiswa memberitahu kepada temannya yang sedang bermain handphone di dalam kelas bahwa dosen telah datang, kemudian agar dia berhenti bermain handphone, sedangkan mahasiswa yang bermain handphone tadi awalnya memang tidak mengetahui bahwa dosen telah datang.
Sedangkan lazimul faidah adalah berita yang bersifat klarifikatif, yaitu memberikan pemahaman kepada mukhotob bahwa mutakalim mengetahui suatu hal yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh mukhotob. Contohnya; “hari ini kamu bangun pagi sekali”. Khobar ini berfaidah lazimul faidah karena mutakalim memberikan pemahaman kepada mukhotob bahwa dirinya mengetahui jika mukhotob telah bangun pagi hari ini. Dan hal ini secara otomatis telah diketahui sebelumnya oleh mukhotob.
Selain dari tujuan asli tadi, penyampaian khobar ini juga mempunyai tujuan balaghi, diantaranya istirham (meminta belas kasihan), idhar dho’fi (menampakan kelemahan), al-khast ala sa’yi waljiddi (himbauan agar berusaha dan bersungguh-sungguh), idhar tahassur (menampakan penyesalan), al fakhr (kebanggaan).
D. Macam-macam Khobar
            Dilihat dari keadaan mukhotob, khobar terbagi menjadi tiga, yaitu ibtidai, tholabi dan inkari. Khobar ibtidai yaitu ketika mukhotobnya dalam keadaan kholi dzihni, yaitu tidak memikirkan apapun dan bisa secara begitu saja menerima khobar, dan dalam keadaan seperti ini penyampaian khobar tidak membutuhkan taukid. Contoh; الأستاذ جاء
            Tholabi yaitu ketika mukhotobnya ragu-ragu dengar khobar yang dia terima, dan dalam keadaan seperti ini biasanya terdapat satu taukid dalam khobar. Contoh: الأستاذ قد جاء
            Inkari yaitu ketika mukhotobnya mengingkari dan tidak percaya terhadap khobar yang dia terima. Dalam keadaan seperti ini, diperlukan taukid lebih dari satu dalam khobar. Contoh;  واللهِ الأستاذ لقد جاء
            Akan tetapi terkadang terjadi penyelewengan penyampaian khobar dari keadaannya yang jelas, seperti contoh menempatkan kholi dzihni (kosong pikirannya) pada tempatnya mutarodid (ragu-ragu) sehingga ditemukan satu taukid dalam khobarnya, menempatkan orang yang tidak mengingkari pada tempatnya orang yang munkir (ingkar dan tidak percaya) sehingga ditemukan beberapa taukid dalam khobar, dan menempatkan orang yang munkir pada tempatnya orang yang yang tidak munkir (ingkar dan tidak percaya) sehingga tidak ditemukan taukid dalam khobarnya.
E. Balaghoh Khobar dalam Surat al-Ashr
            Ayat pertama berupa qosam, yang bermakna “demi masa”. Dan di sini tidak akan dibahas tentang balaghoh qosam. Karena qosam bukan merupakan bagian dari khobar, melainkan bagian dan insya, yakni insya’ qhoiru tolabi.
            Ayat kedua berupa khobar inkari, karena di dalamnya terdapat beberapa taukid. Yang pertama taukid qosam yang terdapat pada ayat pertama, kedua taukid berupa inna, ketiga taukid berupa lam taukid.[3] Khobar di sini berupa inkari tetapi bukan ditujukan kepada orang yang munkir, oleh karena khobar ini termasuk dari tanzil ghoiru munkir manzilatassailah munkir (menempatkan orang yang tidak inkar pada posisi orang yang inkar). Karena mukhotob, yakni Nabi Muhammad dan seluruh umat manusia dalam keadaan kholi dzihni,  bukan munkir. Kholi dzihni dengan berarti mempercayai dan dapat menerima sesuatu yang difirmankan dalam Alquran, karena tidak mungkin seorang Nabi Muhammad itu munkir terhadap Alquran. Dan tujuan dari taukid-taukid tadi bukan untuk menyakinkan bagi orang yang munkir, tetapi untuk mengingatkan kepada seluruh manusia karena manusia itu sungguh benar-benar dalam kerugian agar kemudian sadar dan kembali ke jalan yang benar. Dan khobar di sini memiliki faidah faidatul khobar, karena sebelumnya mukhotob belum mengetahui hal ini.
Dilihat dari segi susunannya, musnad ilaih dalam ayat kedua adalah al insan, karena dia berkedudukan sebagai isimnya inna. Sedangkan musnadnya yaitu syibhu jumlah yang berupa jar majrur. Qoyidnya adalah amil nawasikh berupa inna dan lam taukid. Kalimat al insan ini menunjukan makna seluruh manusia tanpa terkecuali, إطلاق البعض وإرادة الكل (mengucapkan tertentu atau sebagian dengan dibatasi dengan al akan tetapi yang dimaksud adalah keseluruhannya).[4] Akan tetapi ada lanjutannya pada selanjutnya, yaitu istisna yang akan memberikan qoidah qosr.
Ayat ketiga berupa khobar ibtidai, karena tidak ada taukid di dalamnya. Ayat ketiga ini masih berhubungan dengan ayat yang kedua, karena mustasna minhunya istisna dalam ayat ketiga terdapat dalam ayat yang kedua, yaitu al insan (seluruh manusia).[5]
            Dilihat dari susunannya, musnad ilaih dalam ayat ketiga ini adalah dhomir hum (mereka) yang tersimpan dalam fiil أمنوا ، عملوا ، تواصوا  . sedangkan musnadnya berbentuk istisna berupa إلا الذين , maful berupa الصلحات , dan jar majrur berupa بالحق ، بالصبر . Sedangkan qoyidnya berupa adat istisna dan wawu athof.















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan           
            Kalam di dalam Surat al-Ashr ini termasuk khobar inkari karena terdapat beberapa taukid di dalamnya. Akan tetapi khobar inkari ini bukan bermaksud ditujukan kepada orang yang munkir. Karena wahyu Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan tidak mungkin seorang Nabi itu munkir. Adapun beberapa taukid yang terdapat pada surat ini bertujuan untuk menarik perhatian serta mengingatkan kepada semua manusia. Agar mereka sadar bahwa mereka berada di dalam kerugian yang sangat besar.

















Daftar Pustaka
Al-Andalusi, Abu Hayan. 1993. Bahrul muhith. Beirut: Darul Kutub
Ash-Shobuni, Muhammad Ali. 1981. Shofwah at-Tafasir. Beirut: Darul Quran al-Karim
Asy-Syaikholi, Abdul Wahid. 2001. Balaghoh al-Quran al-Karim fi al-I’jaz. Oman: Maktabah Dandis
Al-Hasyimi, Ahmad. 1960. Jawahir al-Balaghoh. Indonesia: Dar al-Ihya al-Kutub al-Arobiyah
Jarim, Ali. Musthofa Amin. 2007. al-Balaghoh al-Wadhihah. Jakarta: Roudhoh Press


[1] Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghoh, (Indonesia:Dar al-Ihya al-Kutub al-Arobiyah:1960) h.31
[2] Ali Jarim, Musthofa Amin, al-Balaghoh al-Wadhihah, (Jakarta:Roudhoh Press:2007) h.10
[3] Abdul Wahid Asy-Syaikholi, Balaghoh al-Quran al-Karim fi al-I’jaz, (Oman: Maktabah Dandis: 2001) Jilid. 10 h. 700
[4] Muhammad Ali Ash-Shobuni, Shofwah at-Tafasir, (Beirut: Darul Quran al-Karim: 1981) jilid. 3 h. 601
[5] Abu Hayan Al-Andalusi, Bahrul muhith, (Beirut: Darul Kutub: 1993) jilid. 8 h. 507

Categories

Total Pageviews

Powered by Blogger.

search

Buku (Prediksi) SPMB UIN Jakarta 2021

  SPMB Mandiri atau Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Mandiri, adalah salah satu jalur yang mempunyai kuota paling besar untuk masuk UIN Jak...

About

Aghnin Khulqi adalah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab semester 6 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Popular Posts