Thursday, January 18, 2018




A. Sinopsis Novel Difu al-Layali ahy-Syatiyah (Kehangatan Malam-Malam yang Dingin) Karya Dr Abdullah Bin Sholeh al-‘Ariniy
                Novel ini menceritakan tentang perjalan hidup seorang laki-laki Arab yang bernama Abdul Muhsin, yang sedang menjalani studinya tingkat magister dan doktor di salah satu Universitas Amerika. Abdul Muhsin beserta istri dan anaknya tinggal di kota Colardo untuk beberapa tahun.
                Di mulai dari bandara New York. Abdul Muhsin dan keluarga pertama kali menginjakkan kaki di negeri Amerika, yang menganut paham liberalisme. Dan di lingkungan yang sangat berbeda ini, Abdul Muhsin harus menghadapi masalah-masalah dalam kehidupannya. Mulai dari kriminal, diskriminasi, dan paham liberalnya yang berlaku di negeri tersebut.
                Akan tetapi dengan sabar dan tangguh Abdul Muhsin mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dia hadapi seperti selamat dari perampok, berhasil menyelesaikan tantangan Dr Baha Hanna untuk mengisi seminar, berhasil membujuk Jean pulang ke rumah, merubah sikap Walid (sepupunya), hingga membangun masjid.
                Di dalam novel ini seakan-akan mengandung pesan bahwa seorang muslim dimanapun dia, sekalipun di tempat yang mungkin tidak menguntungkan di pihak mereka, selagi tetap berpegang teguh dengan keislamannya dan Al quran. Semua masalah yang ada di depannya pasti akan teratasi dan terselesaikan. Seperti Abdul Muhsin contohnya, walaupun sudah bertahun-tahun di Amerika. Tetapi tidak sedikit budaya Amerika mempengaruhinya, dan dia tidak terkontaminasi dengan budaya yang ada di Amerika.
                Dan yang menarik dalam novel ini adalah Abdul Muhsin digambarkan seperti sebagai sosok pahlawan sejati yang mampu menyelesaikan segala urusan atau masalahnya dengan tuntas.  
B. Konteks Novel dan Latar Belakang
                Novel ini terbit pada tahun 2000 masehi. Setelah sebelumnya sudah ada Burung Pipit dari Timur karya Taufiq al-Hakim, Kehidupan Latin karya Yahya Haqqi, Musim Hijrah Terakhir karya Thoyyib Sholih, Pantai Terakhir karya Muhammad Jibril, dan Siniora karya Ishom Khoqir. Difu al-Layali asy-Syatiyah (Kehangatan Malam-malam yang Dingin) karya Dr Abdullah bin Sholeh al-Ariniy hadir dengan cerita dan gambaran yang berbeda. Novel ini lebih menyentuh ke dalam aspek sosial dan peradaban dengan cara yang halus. Bukan hanya itu, dalam novel ini juga dihidangkan penggambaran kepribadian orang Arab.
                Lalu kenapa Dr Abdullah mengarang novel yang isi ceritanya tentang pengembaraan atau perjalanan seseorang di negeri orang lain? Mungkin salah satu faktornya adalah pengaruh dari Najib Kailani. Karena Dr Abdulah ini mendapatkan gelar doktor lewat perantara hasil kritiknya terhadap karya-karya Najib Kailani, secara tidak langsung Dr Abdullah tentunya mengenal seluk beluk seperti apa Najib Kailani dan karakteristik dari karyanya. Sedangkan kita tahu bahwa salah satu karya Najib yang terkenal yang berjudul ar-Rojulu Idza Aamana, juga menceritakan tentang pengembaraan seseorang atau cerita perjalanan seseorang di negeri orang lain. Namun novel yang disajikan Dr Abdullah ini berbeda konsep ceritanya dengan novel ar-Rojulu Idza Aamana.
                Jikalau dalam novel ar-Rojulu Idza Aamana ini menceritakan pengembaran orang barat ke timur, sedangkan novel Difu al-Layali asy-Syatiyah ini menceritakan pengembaraan orang timur ke barat. Dan kalau di dalam novel ar-Rojulu Idza Aamana tokoh Iryan terpengaruh dengan lingkungan keadaan dan budaya di timur, tetapi tokoh Abdul Muhsin dalam novel Difu al-Layali asy-Syatiyah tidak terpengaruh atau terkontaminasi sedikitpun dengan budaya barat.
                Lalu kenapa juga Dr Abdullah memilih Riyadh dan Amerika sebagai latar ceritanya? Mungkin salah satu alasannya adalah karena memang Dr Abdullah ini orang Riyadh asli. Lalu bagaimana dengan Amerika? Menurut pandangan saya bukan tanpa alasan Dr Abdullah memilih Amerika sebagai latar dalam novel. Lalu apa alasannya.
                Di Amerika, mulai tahun 1900 sampai 1980 presentase jumlah muslim yang ada di Amerika awalnya 12,4% menjadi 16,5%. Ini artinya dari tahun 1900 sampai 1980 presentase jumlah muslim di Amerika naik 4,1%. Dibandingkan dengan jumlah pemeluk kristen dari tahun 1900 sampai 2000 yang awalnya 26,9% menjadi 30%, presentasenya naiknya hanya mencapai 3,1%. 20 tahun selanjutnya, yaitu tahun 2000. Presentase jumlah muslim kembali naik mencapai 19,2%, sebaliknya presentase pemeluk kristen justru menurun 0,1% menjadi hanya 29,9%.
                Dari presentase di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2000-an ini, presentase kenaikan jumlah muslim di Amerika sedang naik. Dan faktor inilah yang mungkin salah satu sebabnya Dr Abdullah memilih Amerika sebagai latar di dalam novelnya. Di dalam novel juga terdapat cerita tentang keislaman seseorang, yaitu Tomi yang kemudia mengganti namanya menjadi Abdul Karim. Dengan ini, pendapat keadaan kenaikan presentase jumlah muslim di Amerika pada tahun  2000 mempengaruhi Dr Abdullah sehingga memilih Amerika sebagai latar dalam novelnya semakin kuat.
 

C. Analaisis Cultural Studies dalam Novel Difu al-Layali asy-Syatiyah (Kehangatan Malam-malam yang Dingin) Karya Dr Abdullah bin Sholeh al-Ariniy
                Kenapa penulis memilih untuk menggunakan pendekatan cultural studies untuk mengkaji novel ini? Karena menurut penulis sendiri novel ini sangat menarik dikaji dari segi budayanya. Karena tidak sedikit di dalam novel ini yang menghadirkan suatu kebudayaan dengan penggambara-penggambaran yang sangat apik.
                Cultural studies adalah suatu pendekatan yang mengkaji sesuatu melalui budaya. Di dalam cultural studies ini, penulis akan menggunakan dua konsep; identitas dan representasi. Identitas adalah konstruksi budaya, yaitu konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dan lain sebagainya. Representasi adalah tentang bagaimana budaya itu dikonstruksi dan direpresentasikan kepada dan oleh kita dalam cara-cara yang bermakna.
                Identitas yang terdapat dalam novel ini, secara garis besar besar ada dua; konstruk budaya Arab dan konstruk budaya barat. Konstruk budaya Arab diantaranya adalah yang terdapat di dalam tokoh utama sendiri, yaitu Abdul Muhsin. Abdul Muhsin adalah sosok seorang yang selalu membaca doa di setiap waktunya, hal ini membuktikan bahwa Abdul Muhsin sedang dikonstruk oleh budaya orang muslim Riyad. Karena kebiasaan atau budaya orang muslim Riyad adalah selalu berdoa di setiap waktunya. 
                Bukti Abdul Muhsin selalu berdoa terdapat pada halaman 8, 16, dan 65.
كا ن يقول في نبرة وادعة:
اللهم رب السموات السبع وما أظللن
والأرضين السبع وما أقللن ....(halaman 8)
ويقول بلهجة فيها فرح
يا رب لك الحمد والشكر (halaman 15)
لكنه استعاذ بالله من الشيطان الرجيم، ومضى مظاهرا بالقوة (halaman 65)
            Bukan hanya berdoa saja, Abdul Muhsin dan temannya, yaitu Abu Rosyid. Keduanya mempunyai jenggot. Hal ini membuktikan bahwa Abdul Muhsin dan Abu Rosyid sedang dikonstruk oleh budaya Arab dan tetap mempertahankan budaya orang Arab yaitu memelihara jenggot.
                Bukti Abdul Muhsin dan Abu Rosyid berjenggot terdapat pada halaman 43
رحب به، ودعاه إلى الدخول، ودخل عبد المحسن، كان معه صديقه أبو راشد، كان الرجلان متفقين في كثير من مظهريهما، وكان موطن تعجب وليد أنه لم يكن يتوقع أن يكون منظر الرجل الملتحي بهذا الانسجام التام مع اللباس الأجنبي
                Selain gemar berdoa dan berjenggot, budaya Arab yang Abdul Muhsin pertahankan di Amerika ini adalah silaturrahim. Di dalam novel ini diceritakan Abdul Muhsin bersilaturahim ke tempat tinggal Walid, hingga sebaliknya di lain waktu Walid yang berkunjung ke rumah Abdul Muhsin. Bukan hanya itu, sebelum Abdul Muhsin pulang ke Riyadh, dia juga bersilaturahim ke apartemen yang pertama kali dia singgahi ketika tinggal di Amerika. Hal ini membuktikan bahwa Abdul Muhsin sedang dikonstruk budaya timur, yaitu silaturahmi.
                Bukti Abdul Muhsin bersilaturahim ke tempat tinggal Walid dan apartemen terdapat pada halaman 43 dan 166
وفي أحد أيام الأسبوع الأول لوصوله، كان جرس الباب يقرع، وكانت مفاجأة مذهلة حقا، فحين فتح الباب وجد نفسه أمام ابن خالته عبد المحسن (halaman 43)  
قادته قدماه إلى أول مكان سكنه مع أسرته الصغيرة في الفندق الصغير قضوا فيه الأيام الأولى قبل أن ينتقلوا إلى منزل مسزبودي(halaman 166)
Selain pada diri Abdul Muhsin, terdapat identitas konstruk budaya barat. Identitas ini  terdapat pada orang-orang disekitar jalan yang dilihat Abdul Muhsin ketika mobilnya berhenti di lampu merah. Para perempuan menggunakan pakaian yang terbuka dan seksi, yang dapat menimbulkan syahwat para lelaki. Sebagian para laki-laki menggunakan pakaian rapih seperti pakaian kantor (berdasi dan jas), dan sebagian laki-laki lain ada yang rambutnya acak-acak seperti model punk dengan menggunakan pakaiannya yang sobek-sobek. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Amerika yang dilihat Abdul Muhsin tadi sedang dikonstruksi oleh budaya barat.
                Bukti dari masyarakat yang dikonstruk oleh budaya barat ini terdapat pada halaman 10-11
زحام اسيارات لافت للنظر، وها لها كثرة العابرين حين تتوقف السيارات عند الإشارة الضوئية.. كانت تعبر الطريق نساء بملابس فاضحة، وكانت هناك بعض العجائز يقطعن الطريق وهن يمشين الهوينا.. خليط من البشر، فيهم الأسود البشرة، بينما أكثر من البشرة البيضاء، الشديد البياض، بدت ملابس بعضهم في صورة منتظمة مرتبة، كتلك التي يظهر بها رجال الدعاية للعطور الرجالية، والألبسة الرجالية، وبجانب هذا ربما وقف رجل أشعت الشعر، ممزق الملابس.
            Bukan hanya itu saja, identitas yang lain adalah ketika Walid menghidangkan minuman bersoda (Coca-cola) terhadap Abdul Muhsin dan Abu Rosyid. Hal ini membuktkan bahwa Walid telah di konstruk oleh budaya barat, yaitu dengan menghidangkan minuman bersoda, bukan menghidangkan kopi atau air putih seperti budaya di Arab.
                Bukti dari Walid menghidangkan minuman bersoda untuk tamunya terdapat pada halaman 44.
سارع وليد إلى ثلاجة صغيرة في زاوية الصالة، وأخرج منها ثلاث علب كوكاكولا، ووضعها مع ثلاثة أكواب فوق الطاولة
                Identitas yang lainnya ditunjukan oleh Jean. Yaitu ketika Jean merokok. Di dunia barat, seorang merokok bukanlah hal yang aneh lagi. Berbeda mungkin di dunia Arab, seorang perempuan tidak sewajarnya untuk merokok, bahkan seorang perempuan yang merokok bisa saja langsung dicap sebagai wanita yang tidak baik. dengan Jean merokok, hal ini menjadi bukti bahwa Jean sedang dikonstruk oleh budaya barat.
                Bukti dari Jean merokok terdapat pada halaman 153
كانت جين تعبث بسيجارة في يدها، لم تشعلها تقديرا لأمل التي أخبرتها أن دخان السيجارة يسبب لها مضايقة
                 Selanjutnya, setelah identitas adalah representasi. Wujud representasi yang penulis temukan di dalam novel ini adalah berupa budaya bermusyawarah. Budaya bermusyawarah ini sering dilakukan oleh para sahabat nabi pada masanya. Mereka melakukan musyawarah untuk memecahkan suatu masalah dan mencari suatu solusi. Di dalam novel ini musyawarah kembali dihadirkan dan direpresentasikan lewat Abdul Muhsin. Suatu ketika Abdul Muhsin mengundang teman-teman guna untuk membicarakan dan memusyawarahkan perihal rencananya untuk membangun  sebuah masjid. Dan nyatanya musyawarah ini telah mengahasilkan suatu solusi dan akhirnya rencana pembangunan masjid pun berjalan dengan lancar.
                Bukti dari Abdul Muhsin bermusyawarah dengan teman-temannya terdaoat pada halaman 105
وفي عطلة نهاية الأسبوع كان عبد المحسن يقف محييا أصدقاءه الذين لبوا دعوته لتناول العشاء، ومناقشة مشروع بناء المسجد، وعلى ما كان يتوقع تماما


               

Wednesday, November 8, 2017


دجى الليل أشرب قهوة العشق
والليل كموج البحر العميق
الذي يموج في كل الدقائق
لو كان الماء حبرا يُكتب على الأوراق
لنفذ ماء البحر قبل أن تنفذ كلمة العشق
لحسن الحظ هناك قهوة تعبق
تجعلني مملوءا بكثرة المذاق
حتى قد يرى مني عبوس الوجه وطلق
طلق وجهي حين أذكر حلوة ابتسامها
وعبوس وجهي حين أذكر محال نيل عشقها
Kuminum kopi cinta di kala malam gelap
Malam itu bagaikan ombak laut yang teramat dalam
Yang mengombak di setiap menitnya
Andaikan air laut itu dijadikan sebagai tinta yang tertulis di atas kertas
Niscaya, air laut akan habis sebelum kalimat cinta itu usai
Untungnya, masih ada kopi yang berbau harum
Yang menjadikanku dipenuhi berbagai macam rasa
Sehingga, terkadang wajahku terlihat berseri dan cemberut
Wajahku berseri ketika kuingat senyum manisnya
Dan wajahku cemberut ketika kuingat kemustahilan untuk menggapai cintanya

Puisi ini juga diupload di akun ig ais nusantara
Untuk melihat klik di sini

Thursday, August 3, 2017



            Tanwin adalah salah satu tanda dari isim, seperti yang tercantum dalam nadzom Alfiyah
بالجر والتنوين والندا وأل # ومسند للاسم تمييز حصل
Yang artinya: jer, tanwin, nida, alif lam, dan musnad ilaih adalah ciri-ciri isim.
            Tanwin dan alif lam, walaupun keduanya sama-sama ciri dari isim. Akan tetapi keduanya bagaikan air dan minyak. Kenapa begitu? Karena tanwin dan alif lam tidak bisa bersama, tidak bisa berdampingan, tidak bisa berada dalam suatu isim secara bersamaan. Jika sudah ada tanwin berarti tidak ada alif lam, jika sudah ada alif lam berarti tidak ada tanwin.
            Tanwin juga bisa menjadi patokan atau menjadi tolak ukur suatu isim berbentuk ma’rifat atau berbentuk nakiroh. Sebenarnya bukan tanwinnya yang menjadi tolak ukur suatu isim itu ma’rifat atau nakiroh, akan tetapi alif lamnya. Karena alif lam lah yang menjadi salah satu ciri dari isim marifat. Seperti yang tertulis dalam nadzom alfiyah.
وغيره معرفة كهم وذي # وهند وابني والغلام والذي
Yang artinya: selain isim nakiroh itu namanya isim ma’rifat, isim ma’rifat diantaranya; isim dhomir, isim isyaroh, isim alam, isim yang mudhof dengan isim ma’rifat, isim yang didahului alif lam, dan isim maushul
Akan tetapi karena sifat tanwin dan alif lam yang seperti air dan minyak tadi, jadi secara tidak langsung tanwin juga bisa digunakan sebagai tolak ukur suatu isim ma’rifat atau nakiroh.
            Isim ma’rifat tentunya terdapat alif lam dan dia tidak bertanwin, contohnya الطالبُ . sedangkan isim nakiroh sebaliknya, contohnya طالبٌ . dari berbagai banyak jenis tanwin, tanwin dalam contoh ini adalah jenis tanwin tamkin, atau bisa juga disebut tanwin shorfi.
            Sedikit menjelaskan apa itu tanwin tamkin. Tanwin tamkin adalah tanwin yang masuk ke dalam isim mu’rob. Bisa dinamakan dengan tanwin shorfi, karena isim yang tidak bisa menerima tanwin ini disebut dengan ممنوع من الصرف , atau kita sering menyebutnya dengan istilah isim ghoiru munshorif. Oleh karena bisa disebut dengan tanwin shorfi.
            Lalu kenapa penulis memberi judul seperti itu, padahal sudah jelas tadi bahwa isim yang nakiroh atau tidak beralif lam pasti dia akan ditanwin. Eiittssss,,, tunggu dulu, tentunya penulis tidak sembarang memberi judul, dan tentunya mempunyai alasan kenapa menulis judul tersebut.
            Sebelumnya mari kita lihat surat Al-Maidah ayat 119.
قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Jika diteliti dengan seksama, dalam ayat ini terdapat satu kalimat isim nakiroh yang tidak ditanwin. Lalu kenapa bisa begitu? Apakah benar klo dia itu berupa isim nakiroh, lalu jika benar kenapa tidak ditanwin?
            Berawal pertanyaan inilah timbul rasa penasaran penulis, dan akhirnya jawaban dari rasa penasaran tersebut akan penulis coba tuangkan dalam tulisan ini.
            Kalimat يَوْمُ dalam ayat tadi berkedudukan sebagai khobar dari mubtada هَٰذَا . jika khobar tentu dibaca rofa, dan rofanya dengan dhummah karena dia adalah isim mufrod. Tapi kenapa tidak ditanwin? Bukannya kalimat tersebut berupa nakiroh. Ternyata kalimat يَوْمُ di ayat tadi belum selesai, karena kalimat يَوْمُ yang berkedudukan sebagai khobar mubtada, dia juga berkedudukan sebagai mudhof dari suatu susunan idhofah. Seperti yang kita ketahui bahwa mudhofnya idhofah tidak boleh ditanwin atau diakhiri nun. Sebagaimana dalam nadhom alfiyah.
نونا تالي الإعراب أو تنوينا # مما تضيف احذف كطور سينا
Yang maksudnya adalah; buanglah nun dan tanwin pada isim mu’rob yang menjadi mudhofnya idhofah, contoh طورٍ dan سينا menjadi طورِسينا
Dari sini sudah jelas bukan, kenapa kalimat يَوْمُ tidak ditanwin. Karena kalimat يَوْمُ berkedudukan sebagai mudhof, dan mudhof tidak boleh ditanwin. Sedangkan kalau ada mudhof tentunya pasti ada mudhof ilaih supaya menjadi susunan idhofah       yang sempurna, layaknya diriku jikalau tanpamu akan jauh dari kata sempurna #eeaaakkkk.... lalu mudhof ilaihnya dimana? Dan dirimu juga entah kemana L wkwk
            Mudhof ilaih dari kalimat يَوْمُ adalah jumlah fi’iliyah yang berada sesudahnya, yaitu kalimat يَنْفَعُ. Lhoh kok bisa mudhof ilaih berupa jumlah fi’liyah, lalu bagaimana hukumnya? Dalam kitab I’rob al-Quran dijelaskan bahwa jumlah يَنْفَعُ berkedudukan majrur sebagai mudhof ilaih dari يَوْمُ,[1] dan dalam tafsir Bahrul Muhith, disebutkan bahwa asal kalimatnya adalah هذا يومُ نفعِ الصادقين .[2]
            Ternyata ada juga ya isim yang menjadi mudhof dari mudhof ilaih yang berupa jumlah fi’iliyah. sebenarnya hal ini tidak aneh, karena kalau diperhatiakn lagi. Isim yang menjadi mudhof tadi bukan isim biasa, tetapi berupa isim dhorof, yaitu dhorof zaman mutashorrif. Karena memang ada suatu qoidah yang mengatakan bahwa setiap isim zaman (dhorof) boleh dijadikan idhofah dengan jumlah, baik itu ismiyah maupun fi’liyah.[3]
            Sedangkan i’rob bagi isim dhorof yang mudhof terhadap jumlah ada beberapa pendapat.
1. menurut Ulama Kufah
Mengatakan bahwa isim dhorof yang dimudhofkan ke jumlah ismiyah atau fi’liyah (baik itu fiil mudhori atau madhi) maka boleh mu’rob dan boleh mabni. Contohnya : هذا يومُ/يومَ جاء زيد ، هذا يومُ/يومَ زيد قائم ، هذا يمُ/يومَ يقوم زيد
Sebagaimana contoh lain dalam syairnya Nabighoh Adzdzibyani
علي حينَ عاتبتُ المشيبَ على الصبا # فقلتُ ألمّا أصبحُ والشيبُ وازعُ
Kalimat حينَ bisa juga dibaca murob menjadi حينِ akan tetapi membacanya dengan mabni itu lebih dipilih.
2. menurut Ulama Basroh
Mengatakan bahwa isim dhorof yang dimudhofkan ke jumlah ismiyah atau fi’liyah (yang berupa fiil madhi atau fiil medhori yang tidak bertemu nun taukid atau nun jamak inast) maka wajib mu’rob.[4]
 Dan apabila dimudhofkan ke jumlah fi’liyah (yang berupa fiil madhi atau mudhori yang bertemu dengan nun taukid atau nun jamak inast) maka wajib mabni
Contohnya sebagaimana dalam ayat yang telah diabahas  هذا يومُ ينفع الصادقين صدقُهم. Contoh lain: هذا يومَ جاءَ زيدٌ
            Akan tetapi ada juga qiroat yang membaca ayat قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ dengan menggunakan fatkhah, menjadi قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمَ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ yaitu dari riwayat Imam Nafi’.[5]
            Demikianlah jawabanan yang penulis dapat atas rasa penasaran penulis, semua ini penulis tulis ulang dari penjelasan yang penulis dapat dari dosen dan beberapa referensi.
            Semoga bermanfaat J


[1] Muhyidin ad-Darwisy, I’rob al-Quran wa Bayanuhu, jilid 4 h.54
[2] Abu Hayan Al Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, jilid 4 h.67
[3] Lihat al-Hawi fi at-Tafsir al-Qurannya Abdurrahman al-Qommas
[4] Lihat syarah Ibnu Aqil nadhom وابن أواعرب ما كإذ قدأجريا ....
[5] Abu Hayan Al Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, jilid 4 h.67

Total Pageviews

Powered by Blogger.

search

Buku (Prediksi) SPMB UIN Jakarta 2021

  SPMB Mandiri atau Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Mandiri, adalah salah satu jalur yang mempunyai kuota paling besar untuk masuk UIN Jak...

About

Aghnin Khulqi adalah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab semester 6 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Popular Posts